Memandang dunia dengan sebelah mata
Ibu
ku tidak memiliki mata yang sempurna, dia hanya bisa melihat dengan satu
matanya. Saat aku berumur 7 tahun ibuku mengajakku berjalan jalan di taman.
Semua orang melihat ke arah ibu ku dan diriku. Aku tidak tahu kenapa, kemudian
saat sekolah untuk pertama kalinya Ibu ku bekerja di kantin sekolah karena ayah
ku meninggal dalam sebuah kecelakaan saat aku masih balita, itu yang
diceritakan Ibu kepada ku.
Aku
mulai malu dengan keadaan ibu ku dan sering menjauhinya. Waktu itu pada saat
istirahat dia mengantarkan makanan untukku, setelah itu teman2 ku mengejekku.
Aku marah, pada saat pulang ku bilang kepada ibuku “ Ibu ngapain ke kelas ku,
teman2 ku pada ngolok2. Lain kali jangan buat orang malu, ak mau pergi jauh
dari sini”. Kemudian aku mengacuhkannya dan pergi. Keesokannya teman2 ku
mengejekku lagi, ingin rasanya aku menghilang. Kemudian aku bertekad keluar
dari rumah dan tidak mau berhubungan dengan dia lagi. Jadi, aku belajar dengan
giat dan mendapatkan beasiswa sekolah di singapore, saat itu aku berumur 19
tahun. Aku berangkat ke singapore tanpa pamit, meskipun dia sepertinya tau aku
pergi ke singapore.
Sumber : www.2photo.ru
Beberapa
tahun berlalu, aku sudah berkeluarga di sngapore dan memiliki 2 orang anak.
Suatu hari dia datang ke Rumahku dan anak – anak ku kelihatan takut dengannya.
Aku marah terhadapnya dan mengusirnya. Dia hanya membalas “maaf mungkin saya
salah rumah”.
Setahun
kemudian berlalu, datanglah undangan reuni SMA, aku hadir saat itu. Aku sempat
melihat rumah yang pernah kutinggali, disitu seperti tidak ada orang yang
menghuninya lagi. Tetangga disana memberiku sepucuk surat peninggalan ibu. Aku
tidak sedih saat tau dia sudah meninggal. Tetapi isi suratnya membuatku hatiku
hancur, air mata ku tak bisa ku tahan. Selama ini ternyata aku memandang dunia
dengan sebelah mata. Isi suratnya adalah
“
Nak, ibu sangat mencintaimu dan ibu minta maaf saat datang ke Singapore malah
menakuti anak anak mu. Maafkan aku membuatmu malu didepan teman2 mu dulu.”
“
Semoga kamu mengerti, waktu balita kamu mengalami kecelakaan bersama ayahmu.
Ayahmu meninggal dan kamu kehilangan satu mata waktu itu. aku tidak tega,
melihat kamu memandang dunia hanya dengan sebelah mata, jadi aku memberikan
mataku padamu. Aku bahagia karena anakku bisa melihat dunia dengan sempurna ”.
Sumber Cerita : Line Prestigeholics










