Minggu, 06 September 2015

Satu paket dari mu



Pertama ku bertemu dengan mu adalah dimall saat itu, setelahnya aku menjadi temanmu meskipun tidak terlalu dekat. Saat itu perusahaan mengirim informasi dari email dan aku tidak tau caranya untuk membuka informasi itu dan kau membantu ku di warnet depan gang ku. Aku senang mendapat teman baru dan ternyata teman itu adalah kamu. Maaf saat datang kerumah anjing ku selalu menggogongmu dengan keras mungkin dia cemburu karena ada satu sahabat lagi yang hadir disampingku.  


Kita menuju Yogyakarta dan saat itu duduk bersebelahan dipesawat pertama kali aku menaiki burung besi yang bisa terbang diangkasa. Aku menanyakan padamu bagaimana rasanya? Kamu bilang telinga akan sedikit tuli dan itu benar sampai dibandara Pekanbaru telingaku masih tuli. 

Kita mengikuti training sebelum ke Yogyakarta, saat itu aku bahkan belum paham apapun. Melihatmu dapat menjawab banyak pertanyaan yang diberikan traine aku cukup terkesan dan bangga karena kita satu daerah. Terdapat banyak sekali orang pintar didalamnya dan aku takut tersaingi, aku melihatmu begitu rajin mencatat log book, aku yakin suatu saat mungkin kau akan menjadi orang besar, saat menuju Yogyakarta aku memilihmu untuk memandu kami menaiki pesawat karena aku bingung cara chek in dan sebagainya. Saat itu aku percaya kamu adalah orang yang cocok memimpin kami jadi kuberikan posisi Officer kepadamu saat dibandara ku suruh kamu yang mengarahkan. 

Sampai di Yogyakarta orang dari perusahaan memilihmu sebagai ketua PCS 4, aku cukup bangga dan tau bahwa pilihanku benar. Hingga saat masuk ke kuliah semester 1 kulihat kamu dapat menjelaskan apa yang dijelaskan dosen dengan baik dan kamu dapat berbicara bahasa inggris dan mandarin dengan fasi. Kamu tau aku sangat iri padamu, dalam hati aku ingin sekali bisa seperti mu. Aku bahkan tidak mengerti pola pikirmu hingga dapat menyerap semua pelajaran dari dosen. Pembagian KHS kamu IP 4 dan banyak yang lainnya juga sama, aku kecewa tidak bisa seperti mu Teman. Semester 2 dimulai saat itu kita sudah mulai masuk kepelajaran tentang kelapa sawit, tanaman yang bahkan dari TK hingga SMK aku tidak pernah mendengarnya. Sekali lagi kamu membuat ku kagum atas kecerdasanmu. Kamu mengerti semuanya dengan cepat, orang yang kukira tadinya bakal dikalahkan oleh Wilson kini mulai unjuk Gigi. Kamu sekali lagi menuai prestasi dengan mendapatkan IP 4. Wow..  I a Proud of you and I believe you. Semester 3 sudah mulai banyak presentasi dan kulihat cara bicaramu didepan sudah seperti salesman sangat lincah dan tepat. Semua orang melihatmu penuh semangat dan mereka mengakuimu pintar. Aku tidak tau dari dulu aku tidak pernah mengakui seseorang itu pintar, tapi aku mengakuimu Andi Stevanus. Semester 4 kamu lagi lagi mendapat ip 4 disitulah aku sangat yakin padamu bahwa sampai akhir semester kamu pasti jadi yang terbaik.

Dedi pernah cerita bahwa kamu memiliki masalah keluarga dan hal yang sangat tidak asing lagi yaitu masalah ekonomi. Aku juga memiliki masalah ekonomi sepertimu dan ku akui itu memang sulit Andi, bahkan masalahmu mungkin lebih sulit dari ku. Dia bilang kamu mengirim sebagian uang saku mu untuk keluargamu. Wow.. luar biasa, karena salah satu impianku bahkan sudah dilakukan oleh mu. Banyak kisah kita lalui, dulu kita pernah bertengkar hanya karena HP dan salah paham. Aku tau waktu itu Ego dari kita berdua sedang beradu, sungguh lucu saat memikirkan itu, padahal hanya hal sepele. 

Kamu pernah bertanya padaku Soulmate dan sahabat apa bedanya. Hahaha.. aku tidak tahu karena aku bukan orang yang beruntung. Aku tidak bisa membedakan Teman, Sahabat, Soulmate, dsb nya. Aku hanya tau bahwa itu temanku itu saja. Aku juga sempat mengkhawatirkanmu saat tau kakimu semakin parah, sehebat apapun kau menutupi itu. Aku berpikir bagaimana masa depanmu di perusahaan ini jika kakimu tidak bisa sembuh, semakin berpikir semakin aku kesal terhadapmu. Kenapa tidak dari awal kamu langsung memeriksa dan mengobatinya, kenapa harus menyimpan semuanya sendiri. Tapi itulah dirimu dengan sejuta rahasia. Setiap kali aku mengalami kesulitan di mata kuliah, aku akan menuju kamarmu dan bertanya alhasil kau selalu menjawabnya dengan tepat dan membuat ku mengerti. cerita hidupmu membuatku termotivasi untuk melakukan yang terbaik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku akan menghadapi semester V ini tanpa mu disampingku. Aku tidak tau harus bagaimana dan harus kemana aku mencari pengganti sepertimu. Aku pernah berpikir untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun di angkatan ini karena aku tidak ingin terluka seperti dulu ditinggalkan oleh semua temanku. Aku berusaha menyendiri tapi tidak bisa. Setiap 30 menit sebelum kuliah aku harus bertemu kalian dan setiap kali tugas dan ujian aku akan bersama kalian terutama kamu andi, semakin dekat aku merasakan ikatan pertemanan kita semakin aku sadar akan sangat menyakitkan saat berpisah nanti. 

Aku belajar banyak darimu, aku kesal pada diriku sendiri tidak bisa menolong apapun, aku kesal pada diriku yang hanya bisa memberi saran yang tidak berguna, aku kesal hanya bisa menghiburmu sedikit, dan yang paling penting aku kesal padamu karena memiliki sifat yang sama sepertiku yaitu memakai topeng untuk menutupi masalahmu. aku hanya ingin kau tau bahwa aku tidak bisa berbicara banyak saat kau bilang , Saya keluar dari lingkaran keluarga ini. Kumohon berjuanglah selama kamu bisa, tetap percaya Tuhan Yesus adalah Juru Selamat Mu. Ku mohon dengan segala kerendahan hati tetaplah kita berkomunikasi, 7 tahun lagi jika aku berhasil mencapai impian kecil ku maka datanglah menikmati secangkir Coffe, aku lupa bahwa aku belum pernah mentraktir Mu, jadi dalam 7 tahun ini aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impian kecilku itu dan mentraktir mu dengan 1 gelas Coffe di Caffe ku sendiri. Satu hal yang harus kau tau, aku menganggumi mu lebih dari sekedar teman bahkan mungkin kamu adalah panutan yang berharga bagiku. Aku belajar banyak dari kehidupan dan cerita mu, bantuan mu selama ini selalu menolong ku.


Satu paket darimu teman adalah pertemuan yang ditemani oleh waktu yang singkat dan diiringi nyanyian kisah, canda tawa, tangis dan diakhiri oleh perpisahan.

By, Libra Okta Sophian

Your friend